Jatinangor Ketika Malam

16.34 / Diposkan oleh Jatinangor Malam Hari / komentar (1)

Malam kian larut, Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Dimalam selarut itu, dimana- mana penjaja makanan malah sedang sibuk- sibuknya menjajakan makanan dimana- mana di daerah Jatinangor. Pandangannya kosong seperti sedang menanti sesuatu, tak lain tak bukan menanti orang yang berbaik hati membeli dagangan makanannya. Pandangannya lurus kedepan, terdiam menunggu orang, memberikan tatapan penuh harap kepada setiap orang yang lewat. Tapi hanya beberapa orang yang lewat pada jam- jam segini. Tapi penjaja makanan tetap menunggu sampai pagi datang.
Seorang penjaja makanan seperti ini sengaja menunggu malam datang untuk menjual makannya. Mereka sengaja memilih pasar malam hari karena disiang hari sudah terlalu banyak penjaja makanan. Dimalam hari selalu ada saja orang- orang yang bergadang tidak tidur dan pasti kelaparan. Orang- orang seperti inilah yang menjadi sasaran para penjaja makanan. Penjaja makanan ini misalnya tukang jagung bakar, tukang nasi goreng, tukang mie, dan lainnya. Penghasilah yang didapat tukang penjaja makanan malam hari ini sangat lumayan. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari- hari.
Penjaja makanan seperti ini ada sampai pagi datang. Ini membuat jam tubuh para penjaja makanan ini terbalik. Pada malam hari mereka bekerja, paginya mereka istirahat, karena malamnya harus bekerja lagi. Tubuh mereka tampak sudah terbiasa bekerja seperti itu. Semua ini dilakukan oleh mereka hanya untuk mendapatkan sesuap nasi untuk memenuhi hidup mereka. Memang untuk bisa hidup di Kota apalagi Jatinangor yang sedang berkembang, dibutuhkan usaha yang sangat keras.
Lain lagi dengan Kang asep seorang penjaga kosan. Berasal dari kota Sumedang. Pada awalnya dia hanya membantu orang tua nya diladang. Kehidupannya jauh dari kehidupan perkotaan. Tinggal di pelosok desa. Namun nasib telah membawanya ke Jatinangor yang sekarang sudah seperti perkotaan besar. Sebenarnya Kang Asep mempunyai cita- cita lain dalam hidupnya, namun karena tidak ada peluang lain dalam hidupnya selain sebagai seorang penjaga kosan. Kang Asep merasa pilihannya hanya satu- satunya ini. Peluang menjadi penjaga kosan juga didapatkan karena kebetulan orang tua Kang Asep memiliki hubungan saudara dengan seorang pemilik kosan di Jatinangor. Akhirnya datanglah kesempatan itu. Kalau tidak di Jatinangor mungkin kang Asep masih berada di kampungnya di Sumedang sambil terus tetap bekerja kecil- kecilan membantu orang tuanya.
Jalan Raya Jatinangor yang sudah mulai berdenyut sejak adanya Universitas Padjajaran, kini semakin ramai saja. Tidak hanya disiang hari, di malam hari pun suasana kota masih tetap ramai. Roda perekonomian pun terus melaju kencang. Kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mahal, mendesak masyarakat untuk melakukan pekerjaan apa pun untuk mendapatkan uang.
Mulai dari pekerja kantoran, akademisi, pedagang, bahkan pengemis semakin menumpuk saja di daerah ini ini. Salah satunya adalah Kang Asep yang dengan keikhlasan hatinya menjaga kosan.
Kang Asep harus bergadang setiap malamnya untuk menjaga anak- anak yang tinggal dikosan tempat dia bekerja. Kosan yang dijaga oleh kang Asep adalah kosan yang seluruhnya berisi perempuan. Setiap ada teriakan dari anak- anak kosan itu, berarti itu adalah pekerjaan bagi Kang Asep.Musuh kang Asep adalah tentu saja maling dan perampok. Tapi ada juga musuh- musuh kecil seperti ular, dan serangga- serangga kecil yang harus diusir Kang Asep setiap harinya dari kamar anak- anak perempuan itu.Kang Asep sangat disenangi oleh anak- anak kosan tempat dia bekerja karena tingkah lakunya yang penuh sopan santun dan kebaikannya yang setia menolong setiap anak kosan yang kesusahan.
Soal penghasilan Kang Asep tidak mau menyebutkan berapa gaji yang diterima nya karena tidak enak dan takut dengan majikannya sang pemilik kosan. Tapi menurut Kang Asep gaji nya mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya sehari- hari. Apalagi Kang Asep masih bujangan dan belum berkeluarga. Tapi jika sudah berkeluarga tentu saja Kang Asep berharap akan nada gaji tambahan dari majikan atau sang pemilik kosan.
Ada seorang pengemis di Jatinangor yang hanya keluar di malam hari, mungkin karena menurutnya di malam hari lebih banyak yang akan memberikannya karena kasihan malam- malam tidak punya rumah. Tidak jarang penghasilan yang didapatnya sekitar sepuluh ribu dalam satu hari. Terkadang ia juga pernah mendapatkan rezeki sampai seratus ribu. Namun berapa pun hasil yang di dapatnya, ia akan bersyukur. karena semakin modern suatu tempat semakin susah mencari mata pencaharian.
Mengemis menurut sebagian orang berkesan malas. Di daerah Jatinangor ini kita sudah tidak dapat membedakan lagi, mana yang betul mengemis dengan seorang pengangguran yang mencari kesempatan dengan mengemis. Mulai dari anak – anak, dewasa hingga manula berkeliaran sebagai peminta di sepanjang kota ini. Baik yang berbadan sehat, lumpuh, mau pun dengan kekurangan – kekurangan fisik lainnya.
Malam kian larut, tapi sepanjang jalan masih dapat kita temui para penjaja makanan, terlihat dimana- mana di antara keramaian orang ada juga beberapa yang sudah mulai bergerak pulang. Namun tidak demikian dengan para penjaja makanan dan pengemis yang tetap bertahan mencari sesuap nasi dimalam hari.
Semua orang lalu lalang setiap waktu. Namun mereka berjalan begitu saja tanpa menghiraukan pengemis dan penjaja makanan yang berada sekeliling mereka mencari sesuap nasi. Mereka seolah tidak mempunyai rasa iba terhadap seorang pengemis yang duduk di pinggir jalan tersebut.
Rasa letih, mulai tampak di wajah tuanya. Namun itu tidak memupuskan semangatnya untuk terus mengharap belas kasihan dari setiap orang yang lewat. Mengharap dan mengharapkan kebaikan setiap orang yang lewat. Mengaharapkan keberuntungan yang tidak kunjung datang. Ini semua karena desakan kebutuhan hidup yang terus membayanginya.
Para penjaja makanan memulai aktifitas jualannya pada sore hari menjelang malam. Kebanyakan para penjaja makanan ini berharap anak- anak mereka yang mereka sekolahkan tidak mengikuti jejak mereka sebagai pengemis juga. Mereka ingin anak- anak mereka sekolah yang tinggi dan memperbaiki nasib mereka nantinya. Tapi besar kemungkinan anak- anak mereka tidak akan tamat sekolah. Setidaknya mereka dapat mencicipi bangku sekolah, hanya itu harapannya.
Kisah si penjaja makanan di Jatinangor ini hanya seorang di antara banyak kisah lainnya di jalan raya jatinangor. Masih banyak yang lainnnya dengan kisah yang berbeda. Namun tujuan yang mereka mempunyai maksud sama saja yaitu demi mecukupi kebutuhan hidup sehari – hari.
Seharusnya pemerintah kota Jawa Barat bisa menanggulangi masalah kemiskinan ini. Seharusnya semua manusia Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan memperoleh pendapatan yang layak. Pengemis- pengemis yang terus menjamur dikalangan masyarakat hendaknya di tanggapi serius oleh Pemerintah Kota Jawa Barat. Mengurangi jumlah pengemis ini, bukan dengan mengusir mereka. Namun memberikan bantuan kepada mereka untuk membuka usaha lainnya. Atau pun mengasah keterampilan mereka yang nantinya dapat berguna.

Jatinangor Oh Jatinangor

11.26 / Diposkan oleh Jatinangor Malam Hari / komentar (1)

Oleh Lingga Murni Andarini

Jatinangor. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan pendidikan. Di dalamnya terdapat empat universitas tempat mahasiswa menuntut ilmu. Universitas Padjadjaran salah satunya. Unpad ini termasuk universitas yang dituju oleh para calon mahasiswa, lihat saja berapa banyak lulusan SMA yang hendak masuk ke universitas ini. Jumlah pendaftar di setiap fakultasnya setiap tahunnya meningkat. Harapan mereka hanya satu, mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Mahasiswa yang mendaftar datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Banyak dari mereka berdomisili Jakarta dan Bandung. Tetapi ada juga dari luar Pulau Jawa, Padang, Medan, Palembang, dan masih banyak yang lainnya. Para mahasiswa pendatang ini tentu tinggal sementara di tempat kost yang tersedia, seperti Ciseke, Sayang, Cikuda, dan masih banyak lagi. Ada juga mahasiswa yang memilih untuk tidak tinggal disana dan lebih memilih untuk tinggal di rumahnya di daerah Bandung atau sekitarnya. Setiap harinya mereka pergi menggunakan kendaraan pribadi dan kendaraan umum untuk menuntut ilmu di universitas ini. Jarak yang tidak dekat tidak menjadi hambatan untuk mereka.

Kawasan ini adalah kawasan pendidikan yang mempunyai keunikan tersendiri. Cuaca dingin dan lembab tidak membuat warganya diam di rumah. Warga disini adalah warga sementara yaitu mahasiswa yang memenuhi wilayah sepanjang jalan jatinangor.

Siang ataupun malam, kawasan ini selalu ramai. Malam hari di jatinangor lebih hidup dari kawasan-kawasan yang lainnnya. Mahasiswa lalu-lalang dengan berbagai kepentingan. Kepentingan itu tidak jauh dari urusan perut atau tugas. Ya! Kehidupan malam di jatinangor memang menarik untuk kita ulas bersama.

Jika bulan Ramadhan tiba, malam hari di kawasan ini rasanya tidak pernah mati. Gerbang Unpad yang dipenuhi oleh mahasiswa dan berbagai jajanan menjadi salah satu pemandangan setiap malamnya. Pedangang makanan di gerbang ini cukup beragam. Dari muali tukang sate padang, nasi goreng, bubur, dan masih banyak lagi. Jajaran jajanan malam ini menjadi tempat dimana mahasiswa mengisi perutnya.

Pemandangan yang terlihat tidak hanya pedagang dan mahasiswa, tetapi juga tukang ojek yang selalu siap mengantar mahasiswa. Para tukang ojek ini beroperasi di pagi hari dan siang hari. Pada malam hari kerjanya tidak terlalu maksimal. Sebagian dari mereka kembali ke rumah untuk beristirahat dan bersiap untuk bekerja keesokan harinya. Malam hari pun sebenarnya menjadi lahan kerja tukang ojek, karena angkutan umum dalam kampus sudah tidak beroperasi. Disitulah jasa tukang ojek menjadi kendaraan alternatif. Butuh cepat pergi ke tempat tujuan, para tukang ojek siap mengantar.

Berbicara kawasan jatinangor, pasti tidak akan jauh dari pemadaman listrik. Tidak jarang kawasan ini dilanda pemadaman listrik pada malam hari. Mungkin bisa dibayangkan bagaimana jadinya. Mati lampu di malam hari bagi mahasiswa bisa menjadi malapetaka. Ya! Mahasiswa sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di malam hari. Dan jika listrik mati, mereka kelimpungan, tidak bisa menyelesaikan tugas-tugasnya, apalgi jika tugasnya harus dikumpul keesokan harinya. Mereka pasti repot mencari sumber listrik untuk sekedar menyolok laptopnya.

Mereka yang pasrah karena listrik mati akan keluar dan nongkrong-nongkrong di minimarklet yang tidak pernah mati lampu karena mempunyai genset sendiri. Alfamart salah satunya. Minimarket ini selalu bercahaya dan tidak pernah sepi dari kunjungan mahasiswa yang hendak membeli kebutuhan sehari-harinya. Siang ataupun malam, minimarket yang tersebar di banyak wilayah ini pasti akan ramai oleh warga, terutama mahasiswa. Terlebih lagi Alfamart yang dekat dengan ATM tempat mahasiswa mengambil uang kiriman orangtuanya.

Minimarket ini tidak hanya sebagai sumber kebutuhan mereka, tetapi juga bisa dijadikan tempat nongkrong dan tempat bertemu teman. Salah satu minimarket yang sering dijadikan tempat nongkrong adalah Alfamart dekat Bungamas atau tepat berada di depan gerbang. Tidak jarang kita melihat mahasiswa duduk-duduk tepat di depannya. Sekedar berbincang-bincang ataupun rapat untuk urusan tugas atau yang lainnya. Minimarket di jatinangor mempunyai multifungsi untuk mahasiswa sebagai pelanggan utamanya.

Bagi anda yang sering melintasi kawasan ini, tentu tahu betul bagaimana suasana sebenarnya. Kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di siang hari mungkin menjadi salah satu bagian dari kawasan ini. Berbagai kendaran melintasinya, dari mulai angkutan umum, sepeda motor, mobil pribadi, truk, dan bus dari arah Cirebon atau Sumedang. Kendaraan-kendaraan itu membuat udara di Jatinangor tidak sehat. Ya! Asap tebal knalpot menjadi alasan mengapa orang-orang tidak menyukai kawasan ini. Mahasiswa yang menyebrang menjadi sasaran empuk asap knalpot. Begitu menganggu. Jalan sempit jatinangor juga seringkali dipenuhi oleh kendaraan besar dari arah Bandung ataupun Sumedang. Meskipun lalu lintas kawasan ini tidak begitu baik dan asap tebal kendaraan sering menjadi masalah, tetapi tetap jatinangor adalah kawasan yang penuh dengan cerita di dalamnya.

Bisa dikatakan, kesibukan para warganya tak lekang oleh waktu. Hingga larut malam pun, kawasan ini tetap dihidupkan oleh kehidupan malam para mahasiswa. Kegiatan mahasiswa pada setiap malamnya bisa menjadi sesuatu hal yang menarik untuk diceritakan. Berbagai tempat yang mereka kunjungi tidak jauh dari tempat makan, fotocopy, warung internet (warnet), rental komputer, toko alat tulis, tempat DVD, dan lain sebagainya.

Ada juga mahasiswa yang menghabiskan waktunya dengan pergi ke sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai icon modernisasi di kawasan ni. Tiada lain tiada bukan adalah Jatinangor Town Square (Jatos). Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa gedung besar ini adalah sebuah mall layaknya di kota-kota besar. Mall ini seakan menjadi tanda bahwa jatinangor adalah kawasan sub-urban dengan segala perubahannya. Dengan adanya mall ini, pasti akan menimbulkan perubahan sosial di dalamnya.

Jatos ini belum lama berdiri. Di dalamnya terdapat banyak toko yang menyediakan berbagai kebutuhan mahasiswa. Termasuk kebutuhan hiburan. Ya! Gedung yang di dalamnya ada bioskop itu seringkali dikunjungi oleh mahasiswa yang hendak menonton film terbaru. Bioskop ini menjadi salah satu tempat yang dituju para mahasiswa di malam hari. Lelah dengan tugas, bosan di kamra kost, mahasiswa pergi ke tempat ini.

Sekitar pukul 23.00, jatinangor sudah mulai sepi. Kehidupannya mulai melemah. Mahasiswa dan para penghuninya sudah mulai kembali ke habitatnya dan beristirahat. Meski banyak dari mereka menghabiskan waktunya dengan begadang karena ada tugas yang harus diselesaikan. Kawasan ini lengang, hanya ada kendaraan yang melintas di jalan jatinangor. Pedagang mulai beres-beres untuk pulang, gerbang Unpad mulai sepi, dan petugas keamanan kampus tetap siaga.

Jatinangor menjadi kota mati ketika para mahasiswa kembali ke kotanya masing-masing. Ketika perkuliahan sedang libur ataupun ketika hari besar nasional. Sempat beberapa waktu lalu, ketika libur akhir tahun, jatinangor seakan mati karena ditinggal ”penghuninya”. Mahasiswa pulang, pedagang kehilangan sumber penghasilannya. Penghasilan mereka berkurang karena mahasiswa adalah sumber utama pemasuka mereka. Tidak hanya penjual makanan yang bergantung kepada kehadiran mahasiswa, tetapi juga supir angkutan umum, tukang ojek, dan juga supir bus damri. Mereka semua bergantung kepada mahasiswa.

Jatinangor dengan segala ceritanya memang sesuatu hal yang menarik untuk diperbincangkan. Bagi anda yang tidak pernah melintasi kawasan jatinangor, tulisan ini mungkin bisa menjadi sedikit gambaran bagaimana suasana dan kehidupan didalamnya. Siang atau malam, kawasan ini tetap mempunyai kehidupan. Kehidupan mahasiswa adalah titik tengah dari kehidupan kota kecil ini. Mereka yang tinggal sementara dan penduduk aslinya mungkin sama-sama mencintai kawasan ini. Jatinangor Oh jatinangor.

Siang pun Meramaikan Malam

05.22 / Diposkan oleh Jatinangor Malam Hari / komentar (0)

TH6/OJ/2009

Nurida Sari Dewi
210110070282

Siang pun Meramaikan Malam
Waktu penghujung lelah pun tiba. Bagi mahasiswa, saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk melepas segala penat. Istirahat atau sekedar “mencari angin” menjadi media mereka untuk memanfaatkan waktu malam. Di sepanjang jalan Sayang , Jatinangor, dari pertigaan palang Brimob hingga jalan tikungan dekat KUD Jatinangor,malam hari memiliki suasana tersendiri. Ya, mereka, para mahasiswa kampus jatinangor dan penduduk asli biasanya tumpah ruah dalam potongan malam. Bagi mahasiswa, waktu seperti ini adalah waktu melepas lelah. Namun, lain halnya bagi para pedagang. Malam hari adalah titik start mereka dalam menuai rezeki, memulai titik lelah mereka. Jatinangor dalam hiruk pikuk menuju klimaks malam terasa ramai.

Dalam keramaian malam, tak jarang ada kejadian yang membuat beberapa orang tercengang. Akbar,mahasiswa Humas Unpad, mengaku pernah melihat kejadian pemalakan di tempat ia makan malam. Saat itu waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB, Akbar yang sedang kelaparan berusaha mencari warung makan yang masih buka. Ia menyisir jalanan sayang dan beruntunglah ia melihat sebuah warung makan bertajuk “Ayam Bakar Padang” masih membuka dagangannya. Ia heran, tak biasanya warung makan ini buka hingga larut malam. Ia pun memesan makanan dan menunggu makanannya sambil duduk di tempat duduk paling sudut.

“Jadi,waktu itu aku lagi nunggu pesenan, eh ternyata ada dua orang masih muda bawa pisau kecil, dia datengin si ibu yang jualan.. trus mereka ga tau ngomong apa, tiba-tiba aku lihat ibu yang jualan wajahnya ketakutan sambil ngomong terbata-bata ia ngasih uang ke salah satu dari dua orang itu. habis itu mereka pergi,” tutur Akbar.

Melepas rasa penasaran yang ada dalam alam pikirnya, maka Akbar pun bertanya pada Ibu dan Bapak penjual “Ayam Bakar Padang”. Ternyata memang benar, bahwa hampir tiap malam mereka harus “menyetor” uang untuk preman daerah sekitar. Itulah alasan mengapa mereka sangat jarang untuk buka dagangan sampai malam hari. Untuk mahasiswa dan pedagang di Jatinangor, khususnya daerah Sayang, harap berhati-hati di malam hari. pemalakan atau bahkan kejadian mencengangkan lainnya bisa saja terjadi pada anda. Ya, kejahatan memang bisa datang sewaktu-waktu! Waspadalah!

Meskipun terjadi pemalakan atau kejadian lainnya, masih banyak warung-warung makan di sepanjang jalanan Sayang yang masih buka sampai larut. Ini disebabkan banyaknya kendaraan yang melewati jalanan kecil ini. Jalanan kecil,Sayang, ini memang merupakan salah satu jalan pintas yang menghubungkan Jatinangor-Rancaekek. Makanya, tak heran apabila tiap malam akan terdengar dentuman suara kendaraan besar seperti truk dan bis. Hubungannya dengan warung makan di jalanan kecil ini, mereka masih buka untuk memanfaatkan momen-momen di mana pengendara truk atau bis merasa lelah.

Malam, mungkin identik dengan hening, tapi ternyata keheningan itu hanya milik beberapa orang. Banyak orang yang memanfaatkan waktu malam untuk mencari nafkah. Ini merupakan sisi adil dari dunia yang biasa kita lihat dalam kotak: siang untuk bekerja, malam istirahat. Ada banyak hal yang dilakukan orang-orang di malam hari: jalanan yang masih sibuk dengan tamu-tamu kendaraan, seorang pedagang makanan di warung makannya yang sedang menonton TV sambil menunggu pembeli,dan masih banyak lagi. Hening di sana mungkin tak hening di sini. Begitulah realita keadilan… ketika kita beranggapan malam adalah sebuah waktu yang hening… maka,tengoklah keluar.. ada Siang dalam hening Malam.

QS 31. Luqman 29. Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Penyedia Makanan di Tengah Malam

05.20 / Diposkan oleh Jatinangor Malam Hari / komentar (0)

Oleh Abdalah Gifar

Jam pada saat itu telah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Menjelang pergantian hari tersebut, telepon seluler terus berbunyi. Terus berbunyi hingga berkali-kali. Bila bukan SMS, bentuknya pun berupa telepon langsung. Hingga kapan SMS itu akan terus masuk, atau hingga kapan sebuah kontak harus disapa dengan ramah. Kesemuanya itu hanya didasarkan oleh satu maksud, satu keinginan, atau satu permintaan: memesan makanan.
Jatinangor bukanlah kawasan yang tetap hingar bingar jelang malam. Mulai dari pukul 21.00, kawasan ini mulai menunjukkan kelesuannya. Para warga masyarakat yang sebagian besar adalah pendatang dari kalangan mahasiswa, telah memarkirkan dirinya di rumah atau kamar sewaan masing-masing. Jalan-jalan telah sepi dari lalu lalang manusia. Seirama dengan itu, warung-warung dan tempat-tempat usaha penyambung hidup lainnya pun mengakhiri pencarian nafkahnya untuk hari itu. Tempat-tempat usaha pemenuhan kebutuhan perut dan kebutuhan manusia lainnya sama dengan pencari kebutuhan, membutuhkan istirahat. Masih ada hari esok yang siap dijalani.
Di tengah situasi seperti itu, apakah perut manusia itu dapat mempertimbangkan hal itu untuk meminta diisi? Seseorang dapat lapar kapan pun dengan waktu tak terduga yang mungkin di luar jam sibuk. Bagaimana bila perut lapar tapi penyedia makanannya sudah tidak ada yang buka? Bagaimana bila jalan-jalan di tengah sepi itu jadi aral yang membuat orang tidak ingin keluar kamar tetapi ia tetap memerlukan pasokan makanan?
Sebuah pelayanan berhasil diadopsi dari tren perusahaan makanan besar di kota besar oleh beberapa tempat usaha di kawasan pendidikan ini. Pelayanan itu adalah pelayanan pesan antar. Cukup dengan melayangkan sms atau telepon langsung, kebutuhan dasar manusia ini dapat terpenuhi. Sibukkan saja tempat usaha itu dengan pesanan atau orderan makanan yang pastinya telah diketahui menunya dan para pengantar akan siap mengantarkan makanan itu ke depan kamar atau rumah Anda.
Strategi inilah yang dijalankan sebuah tempat usaha bernama Hipotesa. Sebuah tempat pemenuhan kebutuhan dasar manusia ini terletak di jalan sempit yang populer disebut Ciseke Besar. Bukan pukul 23.00 atau bukan pukul 01.00 dini hari warung ini tutup. Warung ini siap melayani pesanan di tempat atau diantar selama 1x24 jam alias nonstop. Tanpa jeda atau tanpa istirahat.
Saat tempat-tempat makan lain telah urung dari percaturan usaha di malam hari, Hipotesa tetap menjalankan usahanya tanpa kenal lelah. Itu pun tentu saja tanpa menyiksa pegawainya. Dengan pembagian shift yang jelas, pegawai dapat melaksanakan kerja mereka meski di saat pegawai-pegawai di tempat lain menikmati kasur di dinginnnya malam. Menurut pengakuan para pegawai yang bekerja di sana, mereka bekerja selama 15 jam. Dengan pembagian shift, mereka memiliki waktu istirahat di kesempatan lain saat tidak kebagian shift. Tiga orang pegawai yang menjaga pada malam hari itu nampak mampu memenuhi banjiran pesanan yang sebagian besar ingin diantar langsung. Mereka silih berganti mengantarkan makanan pesanan kepada para konsumen dalam radius tak lebih dari 1 km dengan berjalan kaki. "Kemana juga dianterin, tapi seringnya sih gak terlalu jauh juga," ungkap Erwin, 19 tahun, pegawai Hipotesa yang saat itu sedang kebagian shift malam. Mereka pun mengantarkan pesanan itu tanpa menggunakan alat transportasi. "Dulu sih sempat pakai sepeda tapi itu gak tahan lama," lanjut Erwin.
Hal yang menarik juga bahwa ternyata Hipotesa mempekerjakan pemuda yang tak lebih dari 25 tahun. Bukan para wanita yang menyentuh dapur itu melainkan para perjaka yang tak terpikirkan sebelumnya akan menekuni dunia pasak memasak. Entah apa yang ada dipikiran pemiliki tempat usaha ini sehingga mempekerjakan laki-laki dalam menjalankan usahanya ini.
Erwin contohnya, adalah pegawai yang baru hampir dua tahun bekerja di tempat ini. Ia mengaku awalnya cukup kaku untuk memasak, namun dengan pengalaman hal itu menjadi biasa. Erwin ini adalah orang Sumedang, sama dengan pemilik usaha tersebut. Berdasarkan penuturannya, pegawainya ditarik dengan rekomendasi orang yang telah bekerja sebelumnya.
Dengan strategi penjualan seperti layanan delivery itu, tak aneh bila usaha yang dibangun oleh seorang anak daerah dari Sumedang ini dapat terus berkembang. Hingga saat ini, usaha makanan miliknya ini telah memiliki empat cabang yang masih tersebar di kawasan Jatinangor ini. Usaha saingan yang menerapkan konsep serupa tak menjadi hambatan dalam melaksanakan usahanya ini. Hal ini karena setiap usaha yang menerapkan konsep pesan antar ini sudah memiliki daerah basisnya sendiri. Jarang juga mahasiswa dengan sadar memesan makanan ke Hipotesa ini padahal tempat ia tinggal berjauhan dengan lokasi usahanya.
Bila menilik menu makanan yang disajikan, sebenarnya bukanlah menu yang khas atau aneh. Menu yang disajikan masih berkutat dengan pengolahan telor dengan bermacam variannya. Selain itu ada sajian mie instan dan minuman dingin atau panas yang siap seduh. Padu padanan nasi berkisar antara jamur, sayur, ayam suir, kornet, keju, dan makanan cepat saji lainnya seperti sarden kaleng. Walau dengan menu yang itu-itu saja, usaha ini masih tetap bisa berjalan dengan tanpa mengalami kekurangan pelanggan.
Menu yang cukup terdengar aneh adalah meu omlet dan telur diamond. Omlet adalah sajian telur dadar yang telah dicampur dengan mie rebus instan lalu digoreng, sedangkan telur diamond adalah telur dadar yang telah dicampur dengan tahu dan digoreng pula. Mengenai harga dari menu-menu yang tersaji di sini, berdasarkan pengamatan di lapangan, masih dalam jangkauan mahasiswa atau dengan kata lain masuk taraf harga mahasiswa. Namun, sebenarnya bila dihitung-hitung bila memasak menu serupa sendiri di rumah, mungkin harga itu akan ketahuan cukup berlebih juga. Untuk satu porsi omlet misalnya, harganya adalah Rp4000 tanpa nasi dan bila dengan nasi menjadi Rp6000. Padahal, mungkin bila memasak sendiri, modal yang dikeluarkan tidak sebesar itu. Walaupun demikian, harga tersebut telah sesuai pasar di Jatinangor.
Diungkapkan Erwin pula, pendapatan yang diraih dalam satu malam dapat mencapai lebih dari satu juta. Total pesanan pun dapat lebih dari lima puluh pesanan dalam semalam saja. Tapi diakui bahwa pesanan masih lebih banyak di siang hari dibandingkan saat malam hari.
Para pelanggan mengakui bahwa sebenarnya menu-menu yang disajikan adalah menu-menu yang biasa yang mungkin sebenarnya dapat dibuat sendiri di rumah. Namun, karena malam itu sepi dan kebanyakan tempat makan telah undur diri, Hipotesa menjadi pilihan. Yang datang langsung ke tempat dan langsung makan di sana pun terkadang bergerombol. Menu tak menjadi sesuatu yang terlalu diperhatikan. Jauh bila bicara soal kesehatan. "Pokoknya kalau lapar, tinggal sms aja," terang Doni, salah satu pelanggan tempat ini.
Walaupun demikian, tempat makan ini adalah tempat makan favorit di tengah sunyi malam di Jatinangor. Meski malam, kebutuhan dasar manusia bukan berarti padam. Menu tak jadi soal, yang penting perut kenyang.

Label:

Kegiatan Malam

05.09 / Diposkan oleh Jatinangor Malam Hari / komentar (0)

oleh: Wikan Resminingtyas

Selama saya tinggal di Jatinangor, sering sekali ada berita kehilangan dari kos-kosan sekitar, entah itu hilang Dompet, Handphone, Laptop, Pakaian, bahkan Sepeda Motor. Paling sering adalah kehilangan handphone dan dompet yang disimpan di kamar. Teman saya, pernah kehilangan sepasang sepatu di tempat kostan saya sekitar 5 tahun lalu. Setelah di teliti, pelakunya adalah tukang bersih-bersih dan cuci baju di lingkungan kostan, padahal ia wanita tua yang sudah berumur 40-50 tahunan, karena teman-teman saya juga ternyata pernah kehilangan dan sama-sama mencurigai ibu-ibu itu, akhirnya ia dipecat jadi tukang bersih-bersih setelah dilaporkan ke pemilik kost.
Maling memang cerdik dan nekat, kadang-kadang ia masuk ke kamar kost disaat kita lengah. Seolah dia tahu kebiasaan kita menyimpan barang, tempat-tempat yang kadang tidak kita duga akan ketahuan, akhirnya kejadian juga. Sebelum hari raya idul fitri, ada kabar kalau anak kost di kostan sebelah hilang handphone-nya, ia simpan handphone tersebut di bawah bantal yang ia tiduri bersama sebuah dompet. Anehnya, dompet yang tidak ada duitnya itu tidak diambil, hanya handphone saja yang ia ambil.
Nah, saya sendiri mungkin termasuk orang yang paranoid, termasuk sama orang-orang disekitar yang datang dan pergi
Bukan tips sih, mungkin ini sekedar saran saya saja:
1. Jangan berikan pemandangan kamar terhadap orang yang tidak anda kenal dengan baik (misalnya, peminta sumbangan, tukang ngamen, tukang bakso, atau orang yang sekedar lewat depan kostan), jangan sembarangan membuka pintu kostan apalagi kalau kostan berhadapan dengan jalan yang sering dilewati. Pernah suatu saat ada orang yang mau minta sumbangan ketika pintu kamar kost saya terbuka, wah itu orang… matanya langsung menerawang berputar kepenjuru kamar kost.
2. Jangan simpan barang berharga di dekat pintu atau jendela. Termasuk menggantung baju/celana yang ada dompetnya, atau menyimpan HP. Sebaiknya diatur tata letak barang-barang dan tempat tidur di kamar kost, jangan menyimpan meja tulis/komputer di dekat jendela. (biasanya kan kita sering menyimpan barang berharga di meja tanpa kita sadar).
3. Kunci kamar kost, walau ditinggal wudhu ke kamar mandi (kalau kamar mandinya diluar). Sebab sering kejadian kehilangan barang ketika di tinggal wudhu shalat Maghrib, padahal hanya 3-5 menit saja. Sebelum tidur, jangan lupa kunci pintu, seorang teman pernah menemukan celana lusuh dan sepatu butut di dalam kamarnya pada suatu pagi, eeeh… taunya celana jeans Levi’s dan Sepatu yang ia punya raib (kebayang gak sih, maling itu sempet ganti celana ama sepatu pas kita tidur)…
4. Waspadai waktu-waktu yang sering terjadi kemalingan: yaitu waktu maghrib, ketika jumat siang (sebagian besar penduduk laki-laki jatinangor menunaikan shalat jumat, kecuali maling), Dini Hari sekitar pukul 3 pagi - 6 pagi.
5. Bila Anda memiliki laptop, dan sering menyimpan di meja, gunakan kunci / rantai laptop untuk mengikatkannya ke meja / tralis. Bulan ramadan kemarin, ada mahasiswi yang kehilangan laptop pukul 5:30 pagi, padahal di laptopnya itu ada skripsi dan data penelitian, kasian sampe nangis terus karena nyesel…
Hati-hati dengan:
1. Ada orang yang sering lewat didepan kostan, biasanya ia pakai topi dan sweater walau siang hari (mungkin ini maling yang mempelajari kebiasaan orang-orang di tempat kost).
2. Ada orang nyari kost-kostan waktu malem atau nyari kost-kostan temennya, ketika ditanya jawabannya ngawur, saya lumayan sering menemukan tipikal orang kayak gini. Tanya aja dengan nada sedikit tinggi dengan bahasa Sunda “Hei rek naon maneh!!!” (Hei mau apa kamu !!!) biasanya orang itu langsung gugup dan berusaha memalingkan muka atau dia mencari alasan sedang mencari kostan / temannya.
3. Akhir-akhir ini sering ada pemulung yang beroperasi dini hari sekitar jam 2 Pagi, heran mereka nyari apa, emang bisa keliatan jelas ?! begitu pikir saya, Taunya memang ada kejadian, ada tutup got (yang dibuat dari besi dan beton) raib diangkut, pagar rumah, tempat sampah, ember, apa pun yang kita lengah menyimpan, bisa raib juga :D.
Secara tampang dan penampilan, kita mungkin dapat membedakan, mana mahasiswa asli mana maling, walau para maling ini sering berusaha berpenampilan seperti mahasiswa, ikuti kata hati Anda. Yang pasti, jangan sampai memberikan kesempatan kepada orang lain bertindak jahat.
. . .

Sepenggal Episode : Jatinangor Malam Hari

04.40 / Diposkan oleh Jatinangor Malam Hari / komentar (0)

TH6/OJ/2009 Hani Noor Ilahi
210110070327

Sepenggal Episode : Jatinangor Malam Hari

Malam yang menggantikan siang
Menepati waktunya...
Malam membawa kegelapan
Selimuti alam semesta..
Di malam yang sunyi, yang menyentuh hati
Kurasa terharu, menginsyafi diri..
[Hijjaz-Malam]
Bumi tempat manusia berada saat ini memang unik, seolah tak ada sesuatu yang tak memiliki pasangan. Ada perempuan ada laki-laki, ada atas ada bawah, ada siang ada juga malam. Semua memiliki ciri khasnya masing-masing yang bersifat komplementer satu sama lain. Ketika salah satu pasangan itu hilang, maka akan terasa janggal sekali. Bisa dibayangkan, bagaimana manusia harus hidup jika, misalnya, tak ada yang dinamakan malam. Mungkin seluruh ummat manusia akan terlena dengan segala aktivitasnya. Tak ada sebuah jeda waktu kehidupan yang lain, yang memiliki karakter khusus seperti malam dengan kedamaiannya.
Dengan karakter damai yang dimilikinya, malam menjadi sebuah kondisi khusus bagi manusia untuk sejenak beristirahat setelah sehari penuh beraktivitas, meskipun tak sepenuhnya aturan ini berlaku umum dan menyeluruh. Ternyata banyak kalangan-kalangan yang baik secara rutin maupun tidak menjadikan malam sebagai waktu beraktivitasnya. Kalangan-kalangan tersebut tidak terbatas pada umur atau status sosial, mulai dari bayi hingga manula pun mungkin-mungkin saja melakukan aktivitas di malam hari. Alasan yang beredar pun tentu bermacam-macam, mulai dari insomnia, kerjaan yang menumpuk, hingga kebiasaan tidur yang tidak seperti orang kebanyakan.
Hal di atas dialami juga oleh sekelompok mahasiswa Universitas Padjadjaran, Jatinango. Mereka menghabiskan waktu malam dengan melakukan kegiatan pembuatan media kampanye dalam rangka pemilihan presiden BEM KEMA Unpad yang baru, menggantikan kepengurusan 2008-2009 di bawah kepemimpinan Gena Bijaksana.
Waktu menunjukkan pukul 20.47 saat itu, ketika sekelompok mahasiswa tersebut tetap asik mengerjakan tugasnya. Biasanya mereka akan mampu mengerjakan media-media kampanye tersebut hingga pukul 02.00 pagi, atau bahkan lebih.
“Iya, kami ini lagi bikin media-media yang dibutuhkan dalam kampanye prama (pemilihan raya mahasiswa-pen) Unpad yang sedang berjalan saat ini.”kata Ismi, mahasiswi FKG yang kedapatan masih berasik-asik ria membuat pernak-pernik kampanye. Dia mengaku bahwa dirinya tidak mengalami serangan kantuk yang dahsyat, meskipun malam semakin larut.
“Mungkin karena sudah terbiasa juga kali ya. Soalnya saya ngerjain ini udah dari beberapa hari yang lalu. Jadi semakin sini rasanya semakin terbiasa dengan pola tidur larut seperti ini.”ujarnya menegaskan.
Ismi lalu menambahkan bahwa dirinya dan kawan-kawan adalah tim sukses salah satu calon dari dua calon yang ada dalam kontes besar mahasiswa Unpad tersebut. Tak ada masalah dengan tidur malam, dengan rasa kantuk, lelah, dia tetap merasakan bahwa pekerjaan yang tengah dilakoninya selama beberapa hari ini adalah sangat menyenangkan. Tak heran memang, Ismi tak hanya bekerja sendiri, dia ditemani oleh teman-temannya sesama tim sukses. Meskipun keesokan harinya wanita yang menjabat juga sebagai Ketua BPM FKG ini harus kuliah pada pagi hari, tak menyurutkan langkah-langkahnya dalam upaya menyukseskan pasangan yang dia dukung.
Selain Ismi, ada juga Erly, seorang mahasiswi Fakultas Farmasi yang juga membantu penyediaan kampanye salah satu calon presiden dan wakil presiden mahasiswa Unpad.
“Yah, seneng-seneng aja sih ketemu sama temen-temen, ngelewatin malem hari bareng mereka. Kenikmatan tersendiri aja kayaknya, dan mudah-mudahan bukan hanya sekedar kenikmatan berkumpul aja, tapi juga kenikmatan bekerja bersama.”kata wanita asli Kuningan tersebut.
Memang ternyata malam bisa membawa berjuta makna, tentang arti kesendirian, arti kemandirian, arti kekuatan, juga arti kedekatan dan keintiman. Tak heran bila akhirnya banyak orang menempatkan kondisi malam sebagai sebuah waktu yang terbilang private. Hal ini bisa dikatakan berlaku umum dan universal. Malam adalah kenikmatan, tak terkecuali dengan Jatinangor.
Fenomena yang ada di salah satu sudut daerah terpencil bernama Jatinangor ini hanyalah salah satu fenomena kehidupan yang ada di Jatinangor. Masih banyak variasi kegiatan-kegiatan malam yang dilakukan oleh masyarakat Jatinangor, salah satunya adalah dengan mengunjungi pusat perbelanjaan nomor satu di Jatinangor, yaitu JATOS [Jatinangor Town Square].
Memang sah-sah saja jika orang ingin menjadikan waktu malam bukan sebagai waktu untuk beristirahat, toh memang tidak ada yang bisa melarang kebebasan manusia untuk itu. Ingin bekerja, ingin beristirahat, atau hal apapun yang ingin dilakukan di malam hari adalah pilihan yang sifatnya sangat kondisional, bergantung pada keadaan dari masing-masing.

Biodata Narasumber
1. Nama : Andi Ismi Syafitri
Lahir : Jakarta, 7 September 1988
Alamat :Jalan Raya Bandung Sumedang KM 21, Pondok Kharisma Jatinangor
Aktivitas : Mahasiswi FKG Unpad Jatinangor

2. Nama : Erly Maryanti
Lahir : Kuningan, 11 November 1988
Alamat : Jalan Raya Ciawi No.31 Jatiinangor
Aktivitas : Mahasiswi Farmasi, Unpad Jatinangor

Jembatan Kolonial yang Mati Suri Beserta Kisah Seramnya

04.35 / Diposkan oleh Jatinangor Malam Hari / komentar (0)

TH6/OJ/2009 Shelly Dhamayanti
210110070343

Jembatan Kolonial yang Mati Suri Beserta Kisah Seramnya

Jatinangor di malam hari. Semakin larut, angin yang bertiup awal bulan Februari ini terasa dingin dan agak lembab. Menyusuri pemukiman penduduk yang sepi sambil memandangi dari luar jendela-jendela kayu dengan temaram lampu yang kurang terang di tengah kegelapan malam hari dapat membuat perasaan cukup was-was. Apalagi jika tempat yang kita lewati memiliki cerita “unik” tersendiri dengan fenomena-fenomena aneh yang menyertainya.
Fenomena aneh ini tetap menjadi misteri bagi orang-orang yang tidak pernah mengalaminya. Masih menjadi sebuah misteri umum. Misteri, sesuatu yang belum diketahui dengan pasti namun menarik keingintahuan orang-orang. Selalu dikaitkan dengan kejadian-kejadian horor dan supernatural. Di zaman modern seperti sekarang pun misteri-misteri ini tetap bertahan. Cerita-cerita mengenai hantu, fenomena-fenomena “unik”, dan hal-hal semacam urban legend masih tetap bertahan bahkan di kota besar sekalipun.
Cerita-cerita seperti ini secara tradisional masih bertahan lewat mulut ke mulut, bahkan ada pula yang sudah bisa diakses di media online. Penjelasannya sendiri tetap tidak bisa diterima oleh akal. Walaupun begitu, orang-orang yang masih percaya terhadap cerita-cerita hantu ini tidak sedikit juga.
Hantu. Entah mengapa hal ini seringkali digambarkan berukuran dan berbentuk manusia (walaupun ada yang menyebutnya menyerupai hewan). Merujuk pada penjelasan Wikipedia Indonesia, hantu biasanya digambarkan "berkilauan", "berbayang", "seperti kabut", atau bayangan. Bagi yang pernah melihatnya, hantu tidak mempunyai tubuh kasar seperti manusia, hanya bayangan badan (astral body). Kadang kala tidak tampak bila dilihat tetapi dalam fenomena lain seperti pergerakan objek, lampu hidup dan mati dengan sendiri, bunyi, dll, yang tidak mempunyai penjelasan logik.
Ada beberapa pandangan di dunia mengenai kepercayaan ini. Di Barat mereka yang mempercayai hantu kadang-kala menganggap mereka sebagai roh yang tidak aman selepas mati, dan dengan itu berkeliaran di Bumi. Ketidaksanggupan mendapat keamanan dijelaskan sebagai ada pekerjaan yang belum selesai, seperti mangsa yang mencari keadilan atau membalaskan dendam setelah mati.
Menurut nonorthodox doktarin Khatolik, hantu dikatakan berada ditempat antara Surga dan Neraka di mana roh bayi yang tidak dibaptis tinggal. Dalam Khatolik dan Kristian Anglikan (dan Christian Spiritualism), mempercayai hantu adalah diterima dan boleh dibicarakan dengan pendeta (clergy).
Dalam kebudayaan Asia (seperti di Tiongkok), banyak orang yang percaya kepada reinkarnasi (reincarnation). Hantu merupakan roh yang tidak mau "di-reinkarnasi-kan" karena mereka mempunyai masalah yang belum selesai, sama seperti di Barat. Dalam tradisi Tiongkok, selain di-reinkarnasi-kan, hantu boleh menjadi abadi (immortal) dan menjadi setengah dewa (demigod), atau dia boleh pergi ke neraka dan menderita selamanya, atau dia boleh mati sekali lagi dan menjadi "hantu kepada hantu". Orang Tiongkok juga percaya bahwa sebagian hantu, terutamanya mereka yang mati lemas, membunuh manusia untuk menghalangi hak mereka untuk di-reinkarnasi-kan.
Dalam agama Hindu, pembahasan terperinci mengenai hantu terdapat dalam Garuda Purana, skripture dari Vedic tradisi (Hindu). Di sisi lain, Samsara Buddhist memasukkan konsep alam hantu lapar. Sentient being dalam alam tersebut dirujuk sebagai Hantu Lapar karena ikatan mereka kepada dunia ini. Asura juga dirujuk sebagai "hantu penggangu".
Kedua-dua Timur dan Barat mempunyai pendapat yang sama mengenai hantu. Mereka berkeliaran ditempat mereka biasa pergi sewaktu hidup atau tempat mereka meninggal. Tempat demikian dikenali sebagai "rumah berhantu"; hal yang mereka lakukan disebut "menghantui". Mereka sering kali menggunakan pakaian yang sering mereka pakai dimasa hidup.
Sementara itu sebagian orang menerima hantu sebagai realitas, ramai mempersoalkan perwujudan hantu. Dalam Wikipedia Indonesia, beberapa orang yang skeptik mungkin coba menjelaskan hantu yang terlihat dengan menggunakan prinsip pencukur Occam (Occam's razor), yang mana menyatakan bahwa penjelasan yang mudah dan memandai bagi sembarang keadaan atau fenomena adalah penjelasan yang paling mungkin.
Kemungkinan lain dari hal ini adalah penipuan, dimana mereka yang melaporkan dianggap sebagai mangsa. Dengan menceritakan cerita cerita semacam itu merupakan suatu cara untuk menghindarkan masyarakat terpencil dari orang luar.
Selain itu terdapat penjelasan lain yang berasaskan pengetahuan mengenai psikologi manusia. Sebagai contoh, kemunculan hantu seringkali dikaitkan dengan gambaran bayangan, kelam, pudar, dan hawa dingin. Tetapi respon terhadap rasa takut adalah merinding, dapat juga diakibatkan oleh hawa dingin.
Faktor psikologi sering kali disebut sebagai penjelasan bagi kejadian melihat hantu: mereka yang lemah semangat cenderung membesar-besarkan apa yang dilihat. Gambaran tertentu seperti gambar dan film mungkin mendorong seseorang mengaitkan struktur tertentu atau kawasan sebagai berhantu karena apa yang dilihatnya dalam film.
Beberapa gambaran mengenai hantu memang pernah ditangkap secara tidak sengaja oleh masyarakat setempat. Kebanyakkan gambar yang diambil adalah di pinggir jalan, kuburan, dan rumah-rumah sakit. Bayangan di dalam gambar ini menunjukkan bayangan hitam, kepulan asap,rupa wajah dan juga cahaya yang terang. Tetapi kebenarannya masih belum diketahui.
Walaupun Jatinangor merupakan kawasan pendidikan, namun cerita-cerita mengenai fenomena-fenomena ini masih tetap bertahan. Entah itu di kampus, di kost, ataupun fenomena-fenomena yang sering dijumpai di tempat-tempat yang memang terlihat angker.
Sebut saja Jembatan Cincin sebagai salah satu tempat yang paling dikenal sebagai kawasan angker di Jatinangor. Jembatan yang pada mulanya dibangun sebagai penunjang lancarnya kegiatan perkebunan karet ini dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda yang bernama Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918.
Menurut penduduk daerah tersebut, karena tidak ada satupun instansi yang mau menangani perawatan jembatan bersejarah ini, maka seringkali jembatan tersebut dianggap angker. Ditambah lagi oleh kawasan pekuburan yang tidak jauh dari jembatan tersebut yang menambah bumbu bagi cerita-cerita yang beredar.
Sebut saja Dina (19), mahasiswa Unpad Jatinangor ini mengaku pernah melihat “sesuatu” yang melayang di jembatan ini. Dengan enggan ia bercerita mengenai hal tersebut. Entah mengapa namun ia mengaku tidak mood untuk membicarakan hal semacam ini.
Bagi masyarakat sekitar, hal ini juga sudah tidak asing. Sebut saja cerita dari pemilik sebuah warung makan di daerah tersebut, menurut Ibu Sari memang cerita-cerita semacam ini sudah banyak berkembang di kalangan mahasiswa dan di kalangan warga daerah tersebut. “Banyak orang yang mengaku melihat ada yang melayang atau cerita tentang noni Belanda yang jatuh dari jembatan itu. Tapi saya sendiri memang belum pernah melihat.”
Jembatan cincin, walaupun terlihat suram, namun dengan kekokohannya jembatan ini tetap menjulang. Kini jalur peninggalan kolonial itu telah mati suri. Bukan lagi rel besi yang ditemui, tapi ribuan bangunan yang mengular mengikuti kelok-keloknya beserta cerita-cerita misteri yang menyertainya.
Legenda dan cerita hantu itu memang merupakan aset kekayaan budaya kota yang intangible (tidak terlihat). Di banyak negara, aset-aset ini menjadi daya tarik lain wisata. Percaya atau tidak, semua berpulang kepada rasionalitas warga. Yang pasti, cerita itu akan terus bertahan, meski dengan warna -nya sendiri.