Kuliner Malam sambil Online

00.21 / Diposkan oleh Jatinangor Malam Hari /

Oleh Gamavianur Novitasari

Jatinangor, sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang, yang memiliki keistimewaan. Salah satu tanda keistimewaanya yaitu plang di atas jalan setelah Tol Padaleunyi, yaitu bertuliskan “Kawasan Pendidikan”. Saat ini jatinangor dikenal sebagai salah satu kawasan pendidikan di Jawa Barat. Pencitraan ini meruapakan dampak langsung pembangunan kampus beberapa institusi perguruan tinggi di kecamatan ini. Seiring dengan hadirnya kampus-kampus tersebut, Jatinangor juga mengalami perkembangan fisik yang pesat. Sebagaimana halnya yang menimpa lahan pertanian lain di Pulau Jawa, banyak lahan pertanian di Jatinangor yang berubah fungsi menjadi rumah sewa untuk mahasiswa ataupun tempat perbelanjaan. Salah satu yang terkenal saat ini yaitu pusat perbelanjaan Jatonangor Town Square.
Penduduk Jatinangor yang mayoritas adalah para pendatang, mahasiswa, membuat Jatinangor terlihat lebih hidup dan ramai. Tanpa adanya kampus-kampus yang berdiri di Jatinangor, maka Jatinangor hanyalah sebuah daerah yang mati, layaknya tidak ada kehidupan. Arus kedatangan para mahasiswa dari berbagai penjuru negeri semakin menuntut percepatan pembangunan di berbagai sektor yang dipandang penting sebagai pendukung kawasan pendidikan. Migrasi besar-besaran para calon cerdik cendekia inipun tak urung mengubah wajah Jatinangor. Lahan pesawahan telah disulap menjadi mall dan super market, ladang-ladang masyarakat berganti deretan bangunan-bangunan kontrakan para mahasiswa yang pembangunannya tak terkendali dan cenderung liar. Pertimbangan-pertimbangan terhadap dampak lingkungan dan tatanan sosial kemasyarakatan tak lagi diindahkan. Belum lagi beberapa bangunan non permanen yang dibangun oleh komunitas-komunitas pedagang kian mengurangi nilai estetik kawasan Jatinangor.
Selain permasalahan krisis lingkungan, hal yang mengemuka lainnya adalah permasalahan krisis budaya yang di dalamnya termuat unsur-unsur seni dan tradisi kemasyarakatan. Ribuan masyarakat pendatang dengan segala atribut budaya yang mereka kenakan perlahan namun pasti mulai menggerus budaya asli Jatinangor. Nilai-nilai khas masyarakat agraris yang sangat mengedepankan toleransi dan tepa selira kini mulai mengabur. Kecintaan masyarakat Jatinangor terhadap berbagai bentuk seni tradisipun tak mampu lagi ditularkan pada generasi-generasi selanjutnya.
Cuaca Jatinangor saat siang hari terasa sangat panas, sebaliknya saat mulai memasuki malam hari, suhu mulai menururn dan sangat dingin. Jatinangor merupakan jalur hijau menuju arah luar kota, sehingga tak heran apabila saat siang hari debu dan asap knalpot dari kendaran-kendaraan besar yang melintasi Jatinangor mengotori wajah kita.
Masuknya ribuan penduduk baru di Jatinangor menambah fasilitas-fasilitas umum yang sangat dibutuhkan. Mesin fotokopi muali dibutuhkan dimana-mana, semua mahasiswa pasti membutuhkan alat itu untuk menunjang pendidikannya. Rental komputer dan warung internet pun mulai memasuki wilayah Jatinangor. Adanya ATM di setiap sudut Jatinangor pun mempermudah aktivitas mahasiswa.
Semakinnya maju teknologi dan semakin beragamnya penduduk baru yang datang ke Jatinangor, membuat Jatinangor semakin maju dan semakin hidup. Ditunjang dengan kebutuhan primer kita, yaitu tempat makan. Saat ini tempat makan sudah tidak susah dicari, karena selalu tersedia di mana pun.
Aktivitas yang dilakukan para mahasiswa tidak hanya berlangsung pada siang hari. Saat malam datang pun Jatinangor masih terlihat ramai dan bahkan tidak pernah sepi. Sesuai dengan permintaan pasar, maka Jatinangor saat ini memiliki beberapa tempat makan yang buka selama 24 jam. Banyaknya aktivitas mahasiswa yang membuat mereka tidur malam bahkan pagi, dan jika tidak sempat makan malam di jam-jam normal, maka akan tersedia tempat makan 24 jam dengan sistem delivery service.
Selain warung internet atau lebih dikenal warnet mulai menjamur di Jatinangor, namun, tak sedikit mahasiswa yang menginginkan pelayanan wireless. Maka, Jatinangor pun saat ini telah dilengkapi fasilitas hotspot. Selain, tempat makan dengan pelayanan 24 jam, Cherrys Corner dan Café Daun menyediakan fasilitas hotspot. Hal ini membuat Jatinangor tetap hidup meski telah malam bahkan dini hari.
Zaki (21), salah satu mahasiswa Unpad, yang berdomisili di Jatinangor, cukup sering mengunjungi tempat-tempat makan yang buka selama 24 jam. Sambil menikmati makan malam, ia pun turut menikmati fasilitas hotspot yang diberikan. selain bisa memenuhi kebutuhan primer, yaitu makan, maka hal tersebut juga telah menunjang kegiatan para mahasiswa.
Dengan memberikan fasilitas lebih seperti pelayanan makan selama 24 jam dan hotspot, maka Jatinangor lebih maju dan hidup sehingga dunia malam Jatinangor tidak seperti kota mati. Inovasi yang diberikan oleh tempat-tempat makan yang menyediakan fasilitas hotspot dan pelayanan 24 jam merupakan ide kreatif untuk menghiasi sunyinya Jatinangor di malam hari.
Antusiasme dari para mahasiswa dengan adanya pelayanan tempat makan selama 24 jam dan hotspot sangat baik. Mereka menjadi tidak ragu lagi untuk keluar malam, karena Jatinangor masih ramai dengan adanya kedua fasilitas tersebut. Jika di warnet mereka hanya bisa mengakses internet, namun di tempat makan yang memiliki fasilitas hostpot maka mereka merasakan santap malam sambil akses internet.
Rama (19), salah satu mahasiswa yang turut merasakan fasilitas pelayanan tempat makan 24 jam dan hotspot. Ia bisa menikmati makan malam sambil mengerjakan tugasnya. Walaupun itu sudah tengah malam, namun ia tetap berani, karena Jatinangor menjadi ramai karena fasilitas 24 jam tersebut.
Perkembangan teknologi dan globalisasi telah membuat masyarakat bertambah maju pula. Ditunjukkan dalam terciptanya fasilitas wireless di tempat-tempat makan dengan pelayanan 24 jam, membuat Jatinangor lebih berkembang dan semakin hidup. Selama tempat-tempat yang berfasilitas lengkap tersebut dipertahankan, atau bahkan diperbanyak, maka Jatinangor selamanya tidak akan pernah mati. Malam pun akan selalu terang dan kecamatan kecil ini akan terus berkembang.

0 komentar:

Poskan Komentar